Rabu, 16 November 2016

Peribahasa yang dimulai dari Huruf D

Peribahasa yang dimulai dari Huruf D
Peribahasa yang dimulai dari Huruf D

Untuk memberikan gambaran mengenai apa saja peribahasa Indonesia yang berawalan dengan huruf "D", Kamus Lengkap Peribahasa Indonesia akan mengetengahkan kumpulan beberapa peribahasa tersebut lengkap dengan artinya, yang kami anggap populer. Jika ingin mengetahui seluruh peribahasa Indonesia berawalan huruf "D" secara lebih lengkap, Anda bisa mengklik huruf "D" pada tab alfabetis di bawah judul blog ini.

Inilah kumpulan peribahasa Indonesia populer yang diawali dengan huruf "D".

Dahulu bajak dari sapi.
Pekerjaan yang dikerjakan tidak menurut aturan. 

Dahulu timah sekarang besi.
Seseorang yang harkat martabat dan kedudukannya sudah turun.        

Dakwa seperti getah, jawab seperti minyak.
Yang terdakwa dan pendakwa sama-sama pandai.          

Dalam dua tengah tiga, telunjuk lurus kelingking berkait.
Seseorang yang tak jujur dan tidak boleh dipercayai.      

Dalam lautan dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu.
Isi hati orang lain tak ada yang bisa mengetahuinya.

Dalam menyelam, dangkal tertimba.
Tidak bisa mendapatkan rezeki yang banyak, sedikit pun bermanfaat.   

Dalam pisang setandan, sebuah ada juga yang busuk.
Dalam satu keluarga, pasti ada juga yang tabiatnya tidak baik.

Dalam rumah membuat rumah.
Seseorang yang bekerja pada orang lain, tetapi hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri. 

Dalam sudah keajukan, dangkal sudah keseberangan.
Maksud dan isi hati seseorang telah bisa diketahui oleh orang lain.        

Darah tertampuk pinang, umur setahun jagung.
Masih muda dan bodoh.       

Dari haji bawa zam-zam, dari rantau bawa hikayat.
Orang yang bepergian pasti membawa oleh-oleh yang merupakan ciri khas dari daerah yang dikunjungi.     

Dari jung turun ke sampan.
Turun pangkat. Jabatannya yang lama lebih tinggi dari sekarang.          

Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah.
Daripada melihat sesuatu yang menyakitkan hati, lebih baik mati.         

Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang.
Daripada melihat sesuatu yang menyakitkan hati, lebih baik mati.         

Datang tampak muka, pergi tampak punggung.
Orang yang punya sopan santun jika datang dengan cara baik-baik, perginya pun dengan baik-baik pula.     

Dedap dibawa cengkering rebah.
Orang besar yang mendapat celaka disebabkan fitnah orang, maka orang yang di bawahnya turut pula mendapat celaka.     

Dekat boleh dipegangkan, jauh boleh ditunjukkan.
Sesuatu hal yang nyata dan jelas keterangannya.

Dengarkan cerita burung, anak dipangku dilepaskan.
Karena mendengar pengaduan orang, kita tidak mempercayai sahabat atau kekasih kita.

Di gunung hendakkan air, di lurah hendakkan angin.
Menginginkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.         

Di laut jadi buaya,  di darat jadi harimau.
Di mana-mana ia membahayakan orang lain.       

Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu.
Bicaranya manis, tetapi hatinya jahat.  

Di lurah air yang besar, di bukit orang yang hanyut.
Orang yang tiada bersalah yang kena hukumannya.        

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Di mana kita tinggal, hendaklah mengikuti adat istiadat negeri itu.         

Di mana kubangan yang tidak berkatak?
Tiap-tiap tempat itu ada kekurangan atau celanya.

Di mana tembilang terhentak, di sana tanaman tumbuh.
Di mana perkara terjadi, di situ pula diselesaikan.

Di rumah beraja-raja, di rimba berberuk-beruk.
Berbuat sesuatu, hendaklah menurut keadaan tempatnya.         

Diam-diam ubi, berisi.
Orang cerdik pandai berlaku sebagai orang bodoh.          

Diam di bandar tak meniru, diam di laut asin tidak.
Hal seseorang yang lama tinggal di negeri yang ramai, akan tetapi masih bodoh.        

Diambil pati dibuang ampas.
Diambil yang penting saja.   

Dianjungkan seperti payung, ditambakkan seperti kasur.
Perihal sesuatu yang sangat dimuliakan.    

Diberi berpadang luas, diberi bertali panjang.
Perihal mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya.   

Diberkah menampar pipi, dibakar melilit puntung.
Orang yang hina itu selalu membalas dengan berbagai jalan, atas sesuatu perbuatan orang yang menyakitinya.          

Dicoba-coba menanam mumbang, untung-untung jadi kelapa.
Mencoba-coba mengerjakan sesuatu walaupun besar kemungkinan tidak akan berhasil.

Digenggam sebagai bara, terasa hangat dilepaskan.
Mengerjakan pekerjaan dengan setengah-setengah terasa berat ditinggalkan.  

Dijual sayak, dibeli tempurung.
Yang hilang sama dengan penggantinya.    

Dilihat rupa, dimakan rasa.
Sesuatu yang telah dibuktikan.       

Dilontar pohon dengan batu, ia melontar dengan buahnya.
Orang yang berilmu itu selalu membalas kejahatan dengan kebaikan.    

Di mana api padam, di sanalah puntung tercampak.
Di daerah mana ia meninggal, di situlah ia dikuburkan.     

Di mana buah masak di situ burung banyak tampil.
Di mana ada rezeki, di situ banyak orang berdatangan.

Di mana cendawan tumbuh, di situ tembilang terentak.
Di mana masalah atau perkara timbul, di situlah jalan keluarnya.

Di mana kayu bengkok, disana musang meniti.
Di tempat yang tidak terjaga, di situlah pencuri akan melakukan kejahatannya.          

Di mana lalang habis, di situ api padam.
Hidup mati seseorang tidak dapat ditentukan, jika sudah waktunya dimanapun dan kapanpun saja kita bisa mati.

Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.
Menaati adat istiadat yang berlaku dimana saja kita tinggal.       

Dinding sampai ke langit, empang sampai ke seberang.
Persaudaraan yang telah putus, karena persengketaan atau suatu larangan yang tidak dapat diubah lagi.    
Diperas santan di kuku, miskin ke mana disurukkan.
Orang yang betul-betul miskin itu, susah menyembunyikan kemiskinannya.      

Dirintang beruk berayun.
Asyik melihat sesuatu dengan menghabiskan waktu.       

Disangka pulut, ditanak berderai.
Kelihatannya pandai, padahal tidak tahu apa-apa.  

Ditepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
Menceritakan aib sendiri atau keluarga, tentulah kita juga yang peroleh malu.

Ditingkat jenjang ditampar bendur.
Syarat mengundang untuk kenduri, hendaklah datang sendiri ke rumah orang yang dipanggil itu atau dengan surat undangan.       

Diuji timbang lebih sesaga.
Hal yang diributkan hanyalah perbedaan yang kecil saja.  

Duduk berkisar, tegak berpaling.
Orang yang selalu ingkar dengan janjinya sendiri.

Duduk di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir.
Hendaklah kita selalu merendahkan diri.     

Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak.
Selalu waspada dan berhati-hati dalam segala hal  

Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Mempunyai derajat yang sama atau sejajar.

Duduk sehamparan, tegak sepematang.
Mereka yang sama tinggi martabatnya atau kedudukannya.       

Duduk seperti kucing, melompat seperti harimau.
Kelihatannya diam, tetapi setelah berbuat akan kelihatan ketangkasan dan ketegasanya.

Dunia dihadang, saku-saku dijahit.
Mau bersenang-senang tapi tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun.